Minggu, 10 Agustus 2008

HEBATNYA SEORANG ESTIMATOR

Membuat rumah tinggal memerlukan investasi dana yang tidak sedikit. Dibutuhkan rasa hati-hati mengelola bentuk investasi ini. Jika penanganannya tidak hati-hati, Rencana Anggaran Biaya (RAB) akan membengkak. Bukan investasi lagi yang didapat, malah membebani pengeluaran rutin sehari-hari. Hal ini bisa terjadi pada semua pembuatan rumah mulai dari yang paling sederhana sampai rumah mewah.

Oleh karena itu, agar tidak terjadi pembengkakan biaya, perlu dicermati apa saja yang menjadi penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah perhitungan volume yang kurang tepat & harga satuan material yang tidak mutakhir. Misalnya, perhitungan volume beton pengecoran yang kurang tepat. Parahnya lagi harga satuan besi yang dipakai tidak up to date. Belum lagi masalah alokasi tenaga kerja (kuli / tukang / mandor) yang tidak terserap alias boros. Ini fakta riil yang sering terjadi di lapangan. Dan masih banyak lagi jenis pekerjaan yang boros dalam anggaran.

Jelas pekerjaan ini tidak gampang. Di dunia teknik sipil pun dibutuhkan seorang profesi yang menangani pekerjaan ini. Dia adalah seorang estimator, yang dituntut dapat mengestimasi kebutuhan membangun rumah (proyek), sekaligus pengendaliannya. Khalayak umum lebih mengenal arsitek daripada seorang estimator. Padahal peran keduanya sama2 pentingnya, saling mendukung, bekerja berirama, dalam menciptakan rumah idaman yang sesuai anggaran (budget).

Tugas estimator tidak berhenti sebatas hitung-menghitung volume & update harga satuan. Tapi juga pengendalian seluruh aktivitas jalannya pembuatan rumah (proyek). Setiap berkala (mingguan) seorang estimator harus memberikan laporan kemajuan proyek (progress) beserta alokasi dana yang telah dikeluarkan. Dengan begitu kendali mutu, harga, dan waktu, sepenuhnya tetap terkontrol dan budget tetap terjaga.

Berikut keuntungan pemilik proyek menggunakan jasa estimator:

  1. Pemilik dapat mengetahui alokasi biaya per pekerjaan, per periode (berkala) selama berlangsungnya proyek.
  2. Pemilik dapat merancang pendanaan kapan pengeluaran hendak dikeluarkan.
  3. Pemilik dapat mengontrol kemajuan proyek (progress).
  4. Pemilik dapat mengetahui biaya yang layak bila ditenderkan kepada kontraktor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar