Senin, 24 Januari 2011

Anti Gempa dan Nyaman

  Akhir-akhir ini sering terjadi gempa di Indonesia dan banyak sekali menimbulkan kerugian uang dan kerusakan rumah atau bangunan bahkan tidak sedikit korban jiwa. Ketika gempa terjadi di Aceh, Yogyakarta, garut, tasik, padang dan ujung kulon sekaligus bersamaan saya menulis artikel ini. Saat ini sudah banyak sekali buku-buku yang membahas tentang cara atau tehnik membangun rumah yang tahan gempa dan tak sedikit juga para ahli kontruksi yang berkomentar cara membangun rumah tahan gempa.
Rumah tinggal merupakan kebutuhan yang utama selain sandang dan pangan. Mewujudkan rumah idaman kita harus mengunakan jasa tukang bangunan, tentunya tukang yang ahli dalam kontuksi bangunan yang benar-benar nyaman dan aman untuk di huni serta kontruksi rumah atau bangunan tahan gempa dengan istilah lain Absortion of vibration atau AOV.
Ada empat faktor yang menyebabkan runtuhnya rumah atau bangunan karena gempa yaitu pemakaian bahan dinding, pengunaan material, tenaga ahli dan penataan ruangan. Pada umumnya rumah atau bangunan sederhana didirikan tanpa mempertimbangkan faktor ketahanan terhadap gempa. Bisa saja di sebabkan oleh sumber daya manusianya atau karena keuangan yang terbatas, coba anda amati struktur rumah anda apakah ada indikasi seperti ini.
Faktor-faktor yang menyebabkan rumah atau bangunan tidak tahan terhadap gempa antara lain :
  1. Pondasi batu kali dipasangkan angkur besi berdiameter 6-8 mm setiap panjang 1-1.5 m.
  2. Kedalaman balok pondasi (sloof) dibuat masuk ke tanah atau minus 10—25 cm dan lantai dasar (± 0.00).
  3. Kolom yang dipakai adalah kolom praktis yang dibeli di toko material. Kolom mi sangat tidak memenuhi syarat untuk bangunan tahan gempa.
  4. Pengecoran kolom dilakukan secara bertahap jika pasangan batu bata telah mencapai ketinggian 1 m. Dilakukan pengecoran dengan adukan yang tidak jelas perbandingan antara semen, pasir, dan split, apalagi jika semua bahan pengerjaannya disuplai oleh pemborong sehingga sulit untuk dilihat mutunya.
  5. Akhir-akhir ini sering terjadi gempa di Indonesia dan banyak sekali menimbulkan kerugian uang dan kerusakan rumah atau bangunan bahkan tidak sedikit korban jiwa. Ketika gempa terjadi di Aceh, Yogyakarta, garut, tasik, padang dan ujung kulon sekaligus bersamaan saya menulis artikel ini. Saat ini sudah banyak sekali buku-buku yang membahas tentang cara atau tehnik membangun rumah yang tahan gempa dan tak sedikit juga para ahli kontruksi yang berkomentar cara membangun rumah tahan gempa. Rumah tinggal merupakan kebutuhan yang utama selain sandang dan pangan. Mewujudkan rumah idaman kita harus mengunakan jasa tukang bangunan, tentunya tukang yang ahli dalam kontuksi bangunan yang benar-benar nyaman dan aman untuk di huni serta kontruksi rumah atau bangunan tahan gempa dengan istilah lain Absortion of vibration atau AOV. Ada empat faktor yang menyebabkan runtuhnya rumah atau bangunan karena gempa yaitu pemakaian bahan dinding, pengunaan material, tenaga ahli dan penataan ruangan. Pada umumnya rumah atau bangunan sederhana didirikan tanpa mempertimbangkan faktor ketahanan terhadap gempa. Bisa saja di sebabkan oleh sumber daya manusianya atau karena keuangan yang terbatas, coba anda amati struktur rumah anda apakah ada indikasi seperti ini. Faktor-faktor yang menyebabkan rumah atau bangunan tidak tahan terhadap gempa antara lain : 1. Pondasi batu kali dipasangkan angkur besi berdiameter 6-8 mm setiap panjang 1-1.5 m. 2. Kedalaman balok pondasi (sloof) dibuat masuk ke tanah atau minus 10—25 cm dan lantai dasar (± 0.00). 3. Kolom yang dipakai adalah kolom praktis yang dibeli di toko material. Kolom mi sangat tidak memenuhi syarat untuk bangunan tahan gempa. 4. Pengecoran kolom dilakukan secara bertahap jika pasangan batu bata telah mencapai ketinggian 1 m. Dilakukan pengecoran dengan adukan yang tidak jelas perbandingan antara semen, pasir, dan split, apalagi jika semua bahan pengerjaannya disuplai oleh pemborong sehingga sulit untuk dilihat mutunya. 5. Tidak ada pemasangan besi angkur pada kolom untuk pasangan dinding batu bata. 6. Dinding batu bata tidak diplester dan tidak diaci. 7. Ring balok terkadang dipasang dan terkadang tidak dipasang. 8. Ring balok hanya menumpang pada pasangan dinding. 9. Hubungan antara ring balok dengan kuda-kuda atap asal jadi. Membuat rumah atau bangunan tanpa memperhatikan faktor keamanan terhadap gempa akan menimbulkan kerugian. Membangun kembali akan lebih mahal karena timbul biaya tambahan seperti biaya membuang dan membersihkan puing-puing reruntuhan rumah. Untuk anda yang akan membangun rumah mungkin ini bisa membantu anda dan untuk lebih jelasnya anda bisa langsung konsultasikan dengan arsitek anda di rumah. Semoga bermanfaat.
  6. Tidak ada pemasangan besi angkur pada kolom untuk pasangan dinding batu bata.
  7. Dinding batu bata tidak diplester dan tidak diaci.
  8. Ring balok terkadang dipasang dan terkadang tidak dipasang.
  9. Ring balok hanya menumpang pada pasangan dinding.
  10. Hubungan antara ring balok dengan kuda-kuda atap asal jadi.

Membuat  rumah atau bangunan tanpa memperhatikan faktor keamanan terhadap gempa akan menimbulkan kerugian. Membangun kembali akan lebih mahal karena timbul biaya tambahan seperti biaya membuang dan membersihkan puing-puing reruntuhan rumah.
Untuk anda yang akan membangun rumah mungkin ini bisa membantu anda dan untuk lebih jelasnya anda bisa langsung konsultasikan dengan arsitek anda di rumah.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar