Sabtu, 08 Januari 2011

suara merdeka

merupakan surat kabar harian pagi yang terbit di Kota Semarang, Jawa Tengah. Harian ini memiliki sirkulasi terbatas pada area Jawa Tengah, dan memiliki pangsa pasar terbesar di Jawa Tengah.
Di kota lain di Jawa Tengah, seperti Surakarta, terbit edisi Suara Solo, dengan porsi berita eks-karesidenan Solo yang lebih banyak. Sedangkan kota Tegal, ada Suara Pantura dengan porsi berita kawasan Pantura (Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang) yang lebih banyak.
Suara Merdeka berdiri sejak 11 Februari 1950 oleh Bapak Hertami, yang mempunyai tujuan independent objektif dan tanpa prasangka dan sebagai perekat komunitas Jawa Tengah. Awalnya, kantor terletak di Jalan Merak (dekat Pasar Johar).
Adapun cara Suara Merdeka mencari data atau informasi yaitu dengan mengirimkan lima wartawan, dimana setiap wartawan harus mempunyai lima hingga sepuluh berita dalam berbagai topik. Koran ini mengambil berita atau news dari Luar Negeri melewati www.detik.com, karena mereka sudah bekerjasama.
Penyajian berita koran ini dibagi menjadi beberapa item yaitu ekonomi, politik, sosial, kriminal, dan hiburan. Selain koran, Suara Merdeka juga bisa dilihat secara online melalui www.suaramerdeka.com
Adapun bagian-bagian dari Suara Merdeka yaitu redaksi, redaktor senior atau pengoreksi, pemimpin, wakil pemimpin, koordinator liputan, koordinator pelaksana, dan pracetak. Syarat menjadi pegawai pada perusahaan ini yaitu berijazah s1, IPK minimal 3,0 , terampil dalam menulis, berpengalaman, dan bisa berbahasa Inggris.
Wartawan harus mendapatkan lima berita dan di kirim ke redaksi melalui modem atau e-mail. Setelah itu berita dipilih dan di edit oleh editor, untuk kemudian dicetak. Koran Suara Merdeka dicetak dua ratus lima puluh ribu eksemplar per hari, mulai didistribusikan jam satu malam dan diambil dari jarak yang terdekat.
Tidak hanya di Semarang, Suara Merdeka membuka di kota Surakarta, dengan edisi Suara Solo. Sementara itu, di kota Tegal, terbit edisi Suara Pantura dengan porsi berita kawasan Pantura seperti Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang.
Ketika ada yang beranggapan bahwa pers sekarang jauh berbeda dari pers 50 tahun lalu, maka suara merdeka termasuk yang beda. Dulu ada pers perjuangan, yang tidak memiliki banyak staf, beroplah kecil, tapi melayani kepentingan rakyat.
Ia juga menjadi alat mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Sekarang, dengan muncul liberalisasi ekonomi yang berorientasi pada ekonomi global, memaksa kita menyesuaikan diri untuk bertahan.
Kebanyakan pers saat ini dianggap tidak melayani kepentingan umum. Surat kabar makin hari makin jelek dan dikuasai oleh beberapa kelompok yang kaya dan berhasil saja. Tidak ada lagi koran-koran kecil dan independen yang bisa hidup.
Meski demikian, ada pengecualian koran-koran yang tetap bertahan dan hidup di daerah karena mendapat dukungan dari masyarakat sekitar seperti Pikiran Rakyat (Bandung) Suara Merdeka (Semarang), dan Waspada (Medan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar