Kamis, 20 Januari 2011

Melihat Perkembangan Secondary Skin, Si Tabir Surya



Arsitektur Bangunan - Rumah tropis rentan terpapar sinar matahari secara langsung sehingga suhu di dalam rumah terasa panas. Di sinilah secondary skin berguna untuk menahan sinar matahari langsung plus tampias hujan.

Secondary skin merupakan lapisan kedua pada bangunan dan memiliki fungsi utama sebagai penahan sinar matahari langsung. Biasanya, secondary skin diterapkan pada bangunan yg berada di daerah tropis. Dengan berkembangnya ilmu arsitektur bangunan dan kebutuhan masyarakat akan rumah yg ideal, maka secondary skin sekarang tidak hanya mengedepankan fungsinya, melainkan juga harus bisa menyatu dengan desain arsitektur yg ada.

Material secondary skin paling lazim dan paling dasar dalam arsitektur bangunan yg sampai sekarang masih digunakan adalah gorden, Material lain yg bisa menjadi alternatif tambahan selain gorden adalah wooden blind dan para-para. Sebetulnya bambu juga bisa digunakan sebagai material secondary skin . Namun yg umumnya digunakan pada desain-desain terkini adalah wooden blind dan para-para, karena memberikan kesan minimalis.

Wooden blind biasanya terbuat dari kayu dan diletakkan di belakang bidang kaca rumah. Sebagai secondary skin , wooden blind ini terbukti mampu mengurangi sinar matahari langsung dari luar.

Kelebihan lain wooden blind antara lain mudah didapat, pengerjaannya cepat, dan tersedia dalam berbagai warna, sehingga bisa disesuaikan dengan desain interior yg ada. “Jadi, secara fungsional, wooden blind ini sangat baik, namun tetap bisa membaur atau menyesuaikan terhadap interior bangunannya. Harganya pun bervariasi, bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

Material lainnya adalah para-para, yg disusun dengan kerapatan dan kemiringan tertentu, sehingga berfungsi sebagai semacam tabir surya.

Perbedaan wooden blind dan para-para adalah pada letak atau placement-nya. Wooden blind biasanya cenderung ditempatkan di ruang dalam atau interior bangunan. Letaknya biasanya berada di belakang suatu bukaan jendela. Sementara para-para lebih ke eksterior dan berada di ruang luar, misalnya diletakkan di area teras, sehingga bisa mengurangi sinar matahari dan juga tampias hujan yg jatuh di teras/ beranda rumah.

Jarak pemasangan secondary skin tentu juga harus disesuaikan dengan jarak dari jendela. Jarak wooden blind biasanya lebih dekat dengan jendela, sementara para-para jarak tiap kisi-kisinya tidak ada patokan yg pasti. Biasanya, jarak ideal antara kisi-kisi berkisar 7,5 cm.

Dari sisi biaya, wooden blind jelas lebih murah karena letaknya di dalam ruangan, sehingga terlindungi dari cuaca luar. Sementara para-para lebih rentan. Namun, dengan perkembangan teknologi bahan bangunan, finishing untuk para-para kayu di eksterior pun sudah baik, sehingga tetap low maintenance.

Sumber: www.tabloidnova.com

Temukan Info Lain Seputar Arsitektur Bangunan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar