Sabtu, 29 Januari 2011

Design



Menjawab Tantangan Berumah di Tanah Gempa executive summary by Kevin

Gempa yang menggoyang Kota Padang, Jumat (3/12) pagi, meskipun ”hanya” berkekuatan 4,2 skala Richter, tetap membuat panik warga. Pusat gempa yang terletak di darat, di bagian timur laut Kota Padang, dan letaknya yang tidak terlalu dalam, 10 kilometer dari permukaan tanah, membuat getaran terasa kuat.

Gempa di Kota Padang segera mengingatkan kita pada gempa di bagian barat Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 25 Oktober lalu, yang berkekuatan 7,2 skala Richter. Gempa ini menimbulkan tsunami sehingga mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa. Setahun sebelumnya, yaitu pada 30 September 2009, warga Kota Padang diguncang gempa besar berkekuatan 7,6 skala Richter yang terjadi menjelang magrib. Banyak korban meninggal karena tertimpa bangunan yang diduga kuat konstruksinya tidak memenuhi syarat.

Peristiwa gempa yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi seharusnya telah menjadi memori kolektif masyarakat Indonesia. Indonesia berada di wilayah rangkaian gunung berapi sehingga rawan gempa vulkanik, selain ancaman semburan materi debu dan pasir vulkanik; serta berada di pertemuan Lempeng Australia, Eurasia, Pasifik, dan Asia sehingga potensi terjadinya gempa sangat besar.

Meskipun sebagian besar gempa tidak menimbulkan korban jiwa—kecuali bila menimbulkan tsunami seperti di barat Aceh dan di barat Mentawai—gempa hampir selalu diikuti jatuhnya korban jiwa. Mereka biasanya meninggal karena tertimpa bangunan yang runtuh, seperti terjadi saat gempa di Nabire pada November 2004, di Yogyakarta pada Mei 2006, dan Kota Padang pada Oktober 2009.

Jatuhnya korban jiwa akibat gempa sangat bisa diminimalkan apabila warga dan pemerintah bersama-sama berusaha mengubah cara pandang tentang hidup di Indonesia sebagai negeri gempa. Salah satunya adalah membangun kesadaran pentingnya desain dan konstruksi bangunan tahan gempa.

Tantangan

Kemakmuran telah mengubah gaya hidup masyarakat. Segala sesuatu yang berasal asli dari Indonesia sempat dipandang sebagai ketinggalan zaman, termasuk arsitekturnya. Secara kasatmata hal tersebut terlihat dari desain fisik bangunan, antara lain terlihat dari populernya desain yang mengacu pada desain kawasan Laut Tengah (Mediterania) atau gaya barok yang penuh ornamentasi.

Kehadiran arsitek Belanda di Indonesia meninggalkan jejak bagaimana menggabungkan antara desain dan disiplin ilmu pengetahuan arsitektur dari Barat (Belanda) dengan ciri-ciri iklim tropis dan kondisi sosial Indonesia. Ini antara lain terlihat pada karya Maclaine Pont (antara lain Sekolah Tinggi Teknik Bandung dan Gereja Pohsarang, Jawa Timur) dan Thomas Karsten. Kombinasi itu diambil bukan hanya dari bentuk fisik, tetapi juga pemakaian bahan bangunan, seperti kayu dan batu, dan pembagian ruang.

Dalam arsitektur modern Indonesia, upaya mengembangkan arsitektur yang berangkat dari kondisi sosial, budaya, dan lingkungan fisik Indonesia terus dilakukan, antara lain oleh F Silaban melalui gedung Bank Indonesia dan Mangunwijaya.
Kini, muncul tantangan yang lebih dari sekadar menanggapi bentuk fisik, yaitu pentingnya unsur keselamatan penghuni bangunan menghadapi konsekuensi posisi geografi Indonesia yang berada di kawasan rawan gempa.

Memori kolektif masyarakat Nusantara sebetulnya tecermin dari bentuk dan konstruksi desain bangunannya. Memori kolektif itu spesifik merespons keadaan lingkungan. Kenyataan bahwa hampir semua bangunan asli Nusantara berbahan baku kayu dan berupa rumah panggung atau berfondasi umpak bukannya tanpa alasan.

Kayu merupakan bahan baku yang mudah didapat karena iklim tropis basah memungkinkan tanaman tahunan tumbuh cepat dengan matahari melimpah dan curah hujan cukup. Bentuk rumah panggung selain mengantisipasi curah hujan yang tinggi dan sekaligus tempat ternak, bukan tidak mungkin sebagai respons terhadap gempa, sama seperti fondasi umpak.
Bangunan asli

Arsitek Yori Antar yang menaruh perhatian pada desain arsitektur vernakular yang berangkat dari kondisi lokal mengatakan, rata-rata rumah tradisional memiliki ”konstruksi goyang”. Sambungan bangunan-bangunan berbahan kayu tersebut memakai sistem knock-down atau diikat dengan tali anyaman. Pilihan tersebut membuat konstruksi bangunan sangat elastis. Elastisitas yang tinggi tersebut memungkinkan bangunan asli tersebut merespons dengan baik gempa yang akrab dengan daerah-daerah di Nusantara.

Yori mencontohkan rumah di Nias, Sumatera Utara. Bentuk tiang penyangga rumah panggung dari kayu tersebut saling menyilang sangat rumit. Bentuk rumah panggung tersebut bukan dimaksudkan untuk mengandangkan ternak di kolong rumah, melainkan untuk menghadapi gempa seperti yang terjadi pada 28 Maret 2005 dengan kekuatan 8,2 skala Richter. Gempa mengubur ratusan orang di bawah reruntuhan bangunan di Nias.

”Sekitar 700 korban jiwa di Nias semuanya karena tertimpa bangunan tembok. Yang tinggal di rumah asli Nias hanya satu orang yang meninggal. Rumahnya di bukit dan terguling,” kata Yori. ”Rumah-rumah asli Nias dibuat bukan hanya untuk menghadapi guncangan horizontal, tetapi juga vertikal.”

Fondasi umpak yang menjadi fondasi banyak rumah asli Indonesia tampaknya juga untuk merespons gempa, seperti rumah-rumah di Kampung Naga yang berada di pinggir jalan raya Garut-Tasikmalaya, Jawa Barat.

Fondasi umpak berupa tumpukan batu yang sebagian ditanam, di atasnya bangunan diletakkan sejarak sekitar setengah meter dari fondasi batu. Bangunan terbuat dari kayu dan bambu, dengan tiang bangunan disambung menggunakan sistem knock-down dan diikat tali. Bentuk konstruksi tersebut memungkinkan rumah bergerak fleksibel ketika terjadi guncangan. Manfaat lain adalah memudahkan pemindahan rumah secara utuh ketika ada penambahan keluarga baru, seperti yang disaksikan Kompas awal November 2009.

Arsitektur yang merespons kondisi lingkungan juga tampak jelas di Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Yori dan teman-teman arsitek dengan dukungan Yayasan Tirto Utomo ikut merekonstruksi ulang rumah tradisional di sana yang tinggal empat dari tujuh rumah. Bentuk rumah yang seperti kerucut bulat menurut Yori merupakan respons atas tiupan angin di bukit-bukit. Keseluruhan rumah itu juga merupakan gambaran kekerabatan masyarakat setempat.

Tentu sulit mengharapkan orang kota (dan mengota adalah arus yang sepanjang sejarah peradaban manusia adalah kepastian) tinggal kembali ke kampung atau membangun rumah seperti rumah Nias, rumah Kampung Naga atau rumah Wae Rebo di kota. Yang bisa dipelajari adalah kearifan lokal masyarakat yang belajar dari pengalaman empirisnya, yaitu membangun bangunan yang merespons lingkungan dengan bijak. Dalam hal berumah di tanah gempa adalah memperbaiki teknologi membangun rumah menggunakan ”konstruksi goyang”, fleksibel terhadap guncangan, dan yang dapat dijangkau masyarakat segala lapisan. Inilah tantangan untuk para ahli konstruksi, arsitek, dan ahli sosiologi perkotaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar